Ujung Genteng cukup santer dibicarakan belakangan ini. Katanya pantainya indah. Katanya sunsetnya keren. Katanya penyunya lucu…
Penasaran, akhirnya, tanpa guide apa pun saya bertolak kesana bersama segerombolan mahluk-mahluk seru yang semuanya belum pernah ke Ujung Genteng. Dan inilah cerita hari pertama:
Perjalanan ke Ujung Genteng ternyata tidak seoff-road yang kita persiapkan. Beberapa jalanan bahkan sudah beraspal, walaupun masih tetap banyak yang bolong dan ada pula sedikit yang masih jalan tanah. Hanya saja, perjalanan kesini cukup melelahkan; naik turun melewati perbukitan, belok kiri, belok kanan di pegunungan (kita juga sempet bingung: mau ke pantai kok malah makin naik jalannya?). Salah satu anggota tim sempat semi gugur di tengah jalan, ga tahan maboknya.
Kita semua harap-harap cemas, apakah pengalaman di Ujung Genteng nantinya akan sesuai dengan penderitaan dalam perjalanan ini?
Kita sampai disana sore hari dan langsung membuang barang-barang di penginapan Pondok Hexa, lalu berlari mengejar sunset di pantai berkarang di seberang penginapan. Agak telat memang, makanya si telur sudah kelewat matang….

Setelah langit dipenuhi bintang, kita pun kembali ke penginapan untuk makan malam dan bersiap ke Pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu.
Jam 7:30pm lebih sedikit, geng ojek sudah bersiap memboyong kita. Karena tidak ada yang jago menawar, akhirnya kita harus bayar Rp 35.000 per ojek (termasuk tiket masuk Pangumbahan yang biasanya Rp 5.000). Catatan: mobil sudah tidak diperbolehkan masuk ke daerah Pangumbahan karena mengganggu habitat penyu, jadi kalau mau kesana harus pakai ojek lokal.
Perjalanan naik ojek ini luar biasa menegangkan. Melewati semak belukar, hutan pantai, cerukan sungai yang mengering, dan daerah gelap gulita yang hanya diterangi benderang bintang membuat kita sesekali berpikir, “Aduh, mau dibawa kemana ya diriku ini???” (Catatan: pakailah celana panjang dan kalau bisa sepatu jika tidak mau kaki terbaret-baret semak-semak sepanjang perjalanan; pakailah jaket juga karena angin malam pantai cukup dingin).
20-30 menit perjalanan ojek seru tersebut akhirnya berujung di pintu masuk Penangkaran Penyu Pangumbahan. Kita menunggu di pondokan kantornya, melihat bayi-bayi penyu yang baru lahir sejam sebelumnya (aduh, cute banget, rasanya pengen bawa pulang satuuuu aja, tapi ga boleh hix).

Para pengunjung menunggu di pondokan ini sampai para penyu sudah mulai bertelur, baru kemudian kita diperbolehkan ke pantai, mendatangi si mama penyu dari arah belakangnya supaya si mama tidak kaget.
Ternyata kita harus bersabar sampai kurang lebih pukul 9.30pm (1,5 jam nunggu bow). Di antara kantuk, bosan, dan lelah karena perjalanan, tiba-tiba panggilan dari guide menyentakkan kita. Kita pun berbondong ke arah pantai dengan langkah halus. Eh ternyata begitu sampai disana, kita distop lagi, “Duh maaf ya, ditunggu dulu. Penyunya ternyata pindah tempat.”
Pindah tempat???
Singkat cerita, kita menunggu lagi di hamparan pasir bertontonkan gemuruh ombak laut Selatan bertinggi 8-10 meteran dan hamparan gemerlap bintang di angkasa selama kurang lebih 1,5 jam lagi.
Pas lagi menikmati pemandangan inilah kita dapat bocoran dari salah satu guidenya, “Ini lamanya karena cuma satu penyu yang naik bertelur, dan penyunya cacat — kakinya cuma tiga, dan yang hilang itu salah satu kaki belakangnya yang biasa untuk ngeruk lubang buat telurnya, jadi dia agak susah bikin sarangnya; tadi sudah bikin satu sarang, ga jadi-jadi akhirnya penyunya pindah tempat bikin sarang baru lagi.”
Oooo….ya ampun, kasihan amat…
“Tapi ini sekarang sedang dibantu dikeruk sama orang-orangnya kita supaya lubangnya cepet jadi.”
Oooo……
Setelah masa penantian, datanglah kita melihat si mama penyu tersebut. untunglah pengunjung tidak terlalu ramai sehingga kita bisa melihat keluarnya telur, sampai aksi si mama menutup kembali sarang tersebut setelah selesai bertelur (dengan bantuan salah satu pengunjung baik hati…).

Mama penyu sdedang bertelur. Usia 80 tahun, berat diperkirakan 150-200 kg, kaki belakang hanya satu

Ini adalah tampak belakang mami penyu. Telurnya sebesar bola pingpong

Mama penyu sedang mengibaskan kedua kaki depannya untuk menutup sarang telur di belakangnya
Catatan: bawalah senter pribadi karena pantai sangatlah gelap di malam hari.
Sekitar satu jam menemani si mama penyu, kami pun meninggalkan Pangumbahan dengan kelopak mata berat, tetapi puas.
Sekilas Tentang Penyu Hijau
Penyu Hijau adalah salah satu dari 7 jenis penyu yang masih eksis di dunia. Penyu hijau sangat besar (lihat gambar jejak kakinya pada gambar di bawah), dan dapat hidup sampai ratusan tahun. Kasus penyu cacat seperti cerita di atas bukan kasus langka (tapi tetep aja kasian…), dan telurnya seukuran bola ping pong.

Track kaki mama penyu, lebar badan si mama selebar yang ditunjukkan sang peraga di dalam foto
Penyu Hijau masuk daftar satwa terancam punah (endangered) yang berarti mereka merupakan satwa dilindungi dan di banyak negara diadakan larangan membunuh, mengeksploitasi, dan/atau mengoleksi penyu hijau. Sayangnya, masih banyak orang yang mengonsumsi telur penyu, menjual beli cangkangnya, dan memakan daging penyu
Komentar Terakhir