Oleh: Laminar | Oktober 13, 2009

Bogor: The Jungle

The Jungle adalah nama sebuah taman hiburan di dalam perumahan Bogor Nirwana Residence, kota Bogor. Terletak tidak jauh setelah keluar tol Bogor, The Jungle adalah tempat rekreasi keluarga dan persohiban yang tergolong menyenangkan.

Jualan utamanya adalah waterpark-nya. Memang tidak seheboh Waterboom Pantai Indah Kapuk, tetapi cukup menyenangkan. Hanya saja, lebih baik jangan kesini pada hari libur. Ramenya kayak cendol.

Selain waterpark, ada pula 4D Cinema berukuran kecil yang lebih asyik daripada 4D Cinema Ancol. Waktu saya bertandang kesana, ada dua film yang sedang ditayangkan (kita bisa memilih mau menonton yang mana; jam tayangnya berbeda). Tiketnya Rp 40.000 per film selama kurang lebih 30 menit. Karena kita waktu itu nontonnya Haunted Mansion, kerasa banget pentingnya dan serunya nonton film itu di cinema 4D. Bikin bulu kuduk makin berdiri :D

Lalu ada pula Rumah Hantu model “adventure” alias pengunjung harus berjalan menjelajahi si rumah hantu, tanpa panduan, tanpa kereta. Dijamin seru dan bikin keringat dingin terus ngakak-ngakak abis. Letaknya ada di Basement seberang Cinema 4D. Tiket masuk: Rp 20.000 per orang.

Ada pula arena semacam The Dome di Ancol dimana kita diikat di bagian pinggang lalu bisa meloncat-loncat di trampolin dan bisa berputar-putar di angkasa, serasa terbaaaannng.

Belum puas juga?

Main aja di Timezone yang super sepi disana. Dijamin puas mainnya hehehehehe.

The Jungle
Bogor Nirwana Residence, Bogor
Jawa Barat, Indonesia

Oleh: Laminar | Oktober 13, 2009

Ujung Genteng: Edisi Penangkaran Penyu

Ujung Genteng cukup santer dibicarakan belakangan ini. Katanya pantainya indah. Katanya sunsetnya keren. Katanya penyunya lucu…

Penasaran, akhirnya, tanpa guide apa pun saya bertolak kesana bersama segerombolan mahluk-mahluk seru yang semuanya belum pernah ke Ujung Genteng. Dan inilah cerita hari pertama:

Perjalanan ke Ujung Genteng ternyata tidak seoff-road yang kita persiapkan. Beberapa jalanan bahkan sudah beraspal, walaupun masih tetap banyak yang bolong dan ada pula sedikit yang masih jalan tanah. Hanya saja, perjalanan kesini cukup melelahkan; naik turun melewati perbukitan, belok kiri, belok kanan di pegunungan (kita juga sempet bingung: mau ke pantai kok malah makin naik jalannya?). Salah satu anggota tim sempat semi gugur di tengah jalan, ga tahan maboknya.

Kita semua harap-harap cemas, apakah pengalaman di Ujung Genteng nantinya akan sesuai dengan penderitaan dalam perjalanan ini?

Kita sampai disana sore hari dan langsung membuang barang-barang di penginapan Pondok Hexa, lalu berlari mengejar sunset di pantai berkarang di seberang penginapan. Agak telat memang, makanya si telur sudah kelewat matang….

Setelah langit dipenuhi bintang, kita pun kembali ke penginapan untuk makan malam dan bersiap ke Pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu.

Jam 7:30pm lebih sedikit, geng ojek sudah bersiap memboyong kita. Karena tidak ada yang jago menawar, akhirnya kita harus bayar Rp 35.000 per ojek (termasuk tiket masuk Pangumbahan yang biasanya Rp 5.000). Catatan: mobil sudah tidak diperbolehkan masuk ke daerah Pangumbahan karena mengganggu habitat penyu, jadi kalau mau kesana harus pakai ojek lokal.

Perjalanan naik ojek ini luar biasa menegangkan. Melewati semak belukar, hutan pantai, cerukan sungai yang mengering, dan daerah gelap gulita yang hanya diterangi benderang bintang membuat kita sesekali berpikir, “Aduh, mau dibawa kemana ya diriku ini???” (Catatan: pakailah celana panjang dan kalau bisa sepatu jika tidak mau kaki terbaret-baret semak-semak sepanjang perjalanan; pakailah jaket juga karena angin malam pantai cukup dingin).

20-30 menit perjalanan ojek seru tersebut akhirnya berujung di pintu masuk Penangkaran Penyu Pangumbahan. Kita menunggu di pondokan kantornya, melihat bayi-bayi penyu yang baru lahir sejam sebelumnya (aduh, cute banget, rasanya pengen bawa pulang satuuuu aja, tapi ga boleh hix).

Para pengunjung menunggu di pondokan ini sampai para penyu sudah mulai bertelur, baru kemudian kita diperbolehkan ke pantai, mendatangi si mama penyu dari arah belakangnya supaya si mama tidak kaget.

Ternyata kita harus bersabar sampai kurang lebih pukul 9.30pm (1,5 jam nunggu bow). Di antara kantuk, bosan, dan lelah karena perjalanan, tiba-tiba panggilan dari guide menyentakkan kita. Kita pun berbondong ke arah pantai dengan langkah halus. Eh ternyata begitu sampai disana, kita distop lagi, “Duh maaf ya, ditunggu dulu. Penyunya ternyata pindah tempat.”

Pindah tempat???

Singkat cerita, kita menunggu lagi di hamparan pasir bertontonkan gemuruh ombak laut Selatan bertinggi 8-10 meteran dan hamparan gemerlap bintang di angkasa selama kurang lebih 1,5 jam lagi.

Pas lagi menikmati pemandangan inilah kita dapat bocoran dari salah satu guidenya, “Ini lamanya karena cuma satu penyu yang naik bertelur, dan penyunya cacat — kakinya cuma tiga, dan yang hilang itu salah satu kaki belakangnya yang biasa untuk ngeruk lubang buat telurnya, jadi dia agak susah bikin sarangnya; tadi sudah bikin satu sarang, ga jadi-jadi akhirnya penyunya pindah tempat bikin sarang baru lagi.”

Oooo….ya ampun, kasihan amat…

“Tapi ini sekarang sedang dibantu dikeruk sama orang-orangnya kita supaya lubangnya cepet jadi.”

Oooo……

Setelah masa penantian, datanglah kita melihat si mama penyu tersebut. untunglah pengunjung tidak terlalu ramai sehingga kita bisa melihat keluarnya telur, sampai aksi si mama menutup kembali sarang tersebut setelah selesai bertelur (dengan bantuan salah satu pengunjung baik hati…).

Mama penyu sdedang bertelur. Usia 80 tahun, berat diperkirakan 150-200 kg, kaki belakang hanya satu

Ini adalah tampak belakang mami penyu. Telurnya sebesar bola pingpong

Mama penyu sedang mengibaskan kedua kaki depannya untuk menutup sarang telur di belakangnya

Catatan: bawalah senter pribadi karena pantai sangatlah gelap di malam hari.

Sekitar satu jam menemani si mama penyu, kami pun meninggalkan Pangumbahan dengan kelopak mata berat, tetapi puas.

Sekilas Tentang Penyu Hijau

Penyu Hijau adalah salah satu dari 7 jenis penyu yang masih eksis di dunia. Penyu hijau sangat besar (lihat gambar jejak kakinya pada gambar di bawah), dan dapat hidup sampai ratusan tahun. Kasus penyu cacat seperti cerita di atas bukan kasus langka (tapi tetep aja kasian…), dan telurnya seukuran bola ping pong.

Track kaki mama penyu, lebar badan si mama selebar yang ditunjukkan sang peraga di dalam foto

Penyu Hijau masuk daftar satwa terancam punah (endangered) yang berarti mereka merupakan satwa dilindungi dan di banyak negara diadakan larangan membunuh, mengeksploitasi, dan/atau mengoleksi penyu hijau. Sayangnya, masih banyak orang yang mengonsumsi telur penyu, menjual beli cangkangnya, dan memakan daging penyu :(

Oleh: Laminar | Maret 17, 2009

Ngarai Sianok yang Terhidang “Lezat”

http://zulfadli.files.wordpress.com/2007/06/bukittinggi-035.jpg?w=440&h=331

Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

Hidangan di jagat raya, kunyahlah dengan perasaan ingin tahu. Karena di baliknya terhampar perasaan yang tidak akan kau temui di meja belajar….. (The Journey, Gola Gong, 2008)

Sebuah pengantar yang disampaikan Gola Gong dalam bukunya The Journey yang diterbitkan tahun lalu terngiang ketika menatap keindahan Ngarai Sianok di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Bagaimana mungkin ya Allah? Bagaimana mungkin bisa seindah ini?

Ngarai Sianok adalah dua dinding bukit yang berdiri berhadapan hampir tegak lurus. Tingginya sekitar 100-120 meter dan panjang sekitar 15 km. Dindingnya membentuk semacam jurang dimana terdapat sawah yang membentang luas dan kelokan sungai di dasarnya. Di bagian atas ngarai ditumbuhi pepohonan dan rerumputan.

Ngarai ini membagi lokasi menjadi dua bagian, kawasan Bukit Tinggi dan Gunung Singgalang. Jika dinikmati dari Taman Panorama yang sengaja dibangun oleh pemerintah daerah di bagian kawasan Bukit Tinggi, keindahan Ngarai Sianok tampak mencengangkan. Cadas yang sangat tangguh, tidak kunjung berubah meski panas dan hujan silih berganti.

Memang di sinilah letak keistimewaan Ngarai Sianok. Apalagi pada saat matahari terbit dan hampir tenggelam. Berbagai wisatawan mancanegara bahkan mengaku tak merasa lengkap jika tidak mengunjungi Ngarai Sianok dalam jadwal perjalanan wisata mereka ke Indonesia. Selain dari Taman Panorama, keindahan Ngarai Sianok juga dapat dinikmati dengan turun langsung ke dasar jurangnya yang merupakan area pemukiman dan persawahan penduduk.

Jika ingin menikmati keindahan ngarai dari Taman Panorama, pengunjung cukup membayar retribusi sebesar Rp 3.000 per orang. Di Taman Panorama, pengunjung juga dapat menikmati lokasi wisata Lobang Jepang yang berlokasi di bawah tanah kawasan Ngarai Sianok. Hanya saja perlu membayar biaya pemandu lagi sekitar Rp 20.000.

Lokasi Taman Panorama Ngarai Sianok sendiri terletak di dalam kota Bukit Tinggi. Jaraknya kurang dari 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi, yaitu kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas. Pengunjung dapat menjangkaunya baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan berjalan kaki sambil menikmati sejuknya udara Bukit Tinggi. Di dalam kawasan Taman Panorama, disediakan pondok-pondok bagi pengunjung untuk bersantai dan menikmati pemandangan ngarai sambil sesekali melihat kelincahan monyet-monyet ngarai yang hidup bebas di kawasan taman. Jika memiliki makanan, berbagilah sedikit kepada mereka. Tapi namanya binatang, pasti mereka akan menunggu untuk diberi makanan lagi.

Di dalam kawasan taman juga terdapat sebuah panggung teater mini yang sesekali digunakan untuk pertunjukan budaya pada waktu-waktu tertentu. Jika berdiri di atas panggung batu tersebut, luas sapu mata menjadi lebih lebar dan keindahan tebing yang berderet makin membuat berdecak kagum.

Keindahan ini yang memang pantang dilewatkan oleh banyak fotografer dan pelukis lokal maupun mancanegara untuk diabadikan. Begitu pula yang dipahami oleh masyarakat sekitar ngarai. Mereka menjual berbagai cendera mata yang menolong para pengunjung untuk terus mengenang keindahan ngarai dan bersyukur atasnya jika sudah pulang ke daerah asalnya.

Di sebelah utara taman, terdapat kios-kios cendera mata yang menawarkan kaus, tas, rajutan, kerajinan tangan rotan hingga lukisan yang merekam kedahsyatan Ngarai Sianok. Kaus dan baju dengan motif khusus dijual dengan kisaran harga Rp 30.000-75.000. Sementara itu, lukisan di atas kanvas dengan berbagai ukuran dijual dengan harga Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Berjalan hingga ujung utara taman, terdapat sebuah menara setinggi 20 meter. Decak kagum di atas panggung teater mini bertambah derajatnya ketika menapaki tangga menara dan mendapati bahwa fakta alam yang sedang terhampar bukanlah buatan manusia.Ngarai Sianok yang Terhidang “Lezat”

Sumber: Kompas.com, 16 Maret 2009

Oleh: elinski | Februari 9, 2009

Losari Coffee Plantation, Jawa Tengah

Reception house

Lokasi: Losari, Jawa Tengah, 1.5 jam dari Semarang atau Yogya dengan mobil

Telp: ( 0298 ) 596333 Website: http://www.losaricoffeeplantation.com

Selama beberapa waktu kami sering dengar tentang Losari Coffee Plantation, katanya oke banget untuk relaksasi, sehingga Natal 2007 lalu saya dan keluarga memutuskan untuk datang kesana. Losari Coffee Plantation, literally, adalah lahan kopi 22 hektar yang sebagian kecil lahannya diganti peruntukan untuk resort, spa, dan kebun sayur dan buah organik.

Lokasinya cukup mudah ditemukan walaupun ngusruk dan jalannya nggak beraspal, terima kasih untuk bantuan papan-papan penunjuk jalan.

Begitu sampai, rasanya semua penyakit sembuh dan rasa kesel menguap dihembus angin sepoi-sepoi dan disambut burung berkicau. Pemandangannya sendiri luar biasa … tergantung dimana kita berdiri, kita bisa menghadap ke gunung Merbabu, Merapi, Andong, Sumbing, Sundoro, dsb. Lokasinya yang berada di dataran tinggi, dikepung delapan gunung, membuat hawa sejuk, sampai kami tidak perlu menyalakan AC selama menginap.

Mereka punya villa 1-5 kamar tidur. Masing-masing villa ini sebetulnya adalah rumah Jawa kolonial tua yang dibeli di saentoro Jawa oleh pemiliknya (Gabriella Teggia, yang juga adalah konseptor Amanjiwo) lalu dipindahkan balok per balok, ubin per ubin, kusen per kusen, ke lokasi di Losari. Bahkan front office mereka (lihat gambar di atas) adalah bangunan stasiun kereta Mayong-Losari. Mengutip kata-kata ibu Gabriella, bangunan-bangunan ini terbengkalai karena sudah tua, karenanya beliau memutuskan untuk memindahkan dan melestarikan bangunan2 yang arsitekturnya hampir punah ini di Losari.

The 4-poster bed

Tinggal disana mengingatkan saya pada rumah Oma-Opa di Jepara. Bahkan ubin, pintu, dipan, dan segala hal yang “tua” di bangunan aslinya tidak mereka ubah. Mereka hanya menambahkan beberapa furnitur, koneksi internet, dan bath tub copper (kuningan? tembaga?) ukuran besar. Masing-masing villa berbeda tampak dan isinya karena Losari tidak mengubah bentuk asli bangunan.

Makanan yang disajikan adalah nostalgia makanan-minuman rumahan Jawa: wedang jahe, soto ayam, pecel, martabak, empal, rujak, rawon, dllsb. Jenis makan yang mereka tawarkan, baik buffet maupun ala carte, tidak sebanyak hotel-hotel bintang lima Jakarta, tapi mereka memang hanya menawarkan makanan rumahan lokal dan hal-hal yang bisa mereka sajikan secara organik dari kebun sendiri.

catur

Cukup banyak orang yang bertanya pada saya, “Apa nggak bosen, berhari-hari di resort yang jauh dari mana-mana?” Diluar dugaan mereka, ada banyak hal yang bisa dilakukan di Losari, mulai dari jalan-jalan di kebun kopi, ke spa, baca buku di pendopo mereka, trekking Gunung Merapi, rafting, tur ke Borobudur, merasakan naik kereta uap ke Ambarawa, naik sepeda melewati persawahan, jalan-jalan ke Candi Umbul, main catur yang bidaknya hampir satu meter tingginya, atau mendengarkan musik gamelan sambil menyeruput kopi atau teh di sore hari. Tinggal tanya concierge atau front office, mereka bisa menganjurkan kegiatan yang cocok dengan kondisi fisik dan kantong anda :-)

Di akhir tahun 2007, kami tinggal di vila 2 kamar tidur termasuk makan pagi untuk tiga orang dengan harga Rp 2.5 juta semalam. Memang cukup mahal, kira-kira sekelas dengan Amanjiwo, tapi sepadan dengan layanan, fasilitas, dan pengalaman yang anda bisa dapatkan di sana.

Oleh: Laminar | Januari 6, 2009

Candi Prambanan, Jogjakarta

http://sonya71.files.wordpress.com/2008/04/candiprambanan.jpg?w=500

Candi Prambanan yang terletak sekitar 10 menit timur kota Jogja ini memang cantik dan terjangkau oleh Transjogja. Sayang sekali mengalami kerusakan cukup parah gara-gara gempa Jogja (Bantul) tahun 2006 lalu dan sampai sekarang candi ini masih dalam proses restorasi.

Candi tercantik dan terbesar Asia Tenggara agama Hindu yang sering disebut juga Candi Roro Jonggrang ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara, dan Batara Brahma sang Pencipta.

Dibangun pada sekitar tahun 850 dan direstorasi kembali pada abad 18 sampai abad 19, kompleks candi ini tidak hanya apik untuk dikunjungi turis, tetapi juga untuk berpiknik keluarga karena di area Candi Prambanan terdapat pula playground dan rerumputan yang sering dipakai untuk keluarga berpiknik sambil ditemani kumpulan kijang yang beberapa dilepas bebas.

Salah satu keunikan candi ini adalah terdaftarnya di UNESCO sehingga area candi ini dilindungi dari bahaya perang.

Oh iya, ada juga dua candi yang terpisah dari gugusan Candi Prambanan utama: Candi Brabah dan Candi Sewu. Untuk ke Candi Brabah tidak terlalu jauh, bisa jalan kaki sekitar 5 menit dari pusat area, tetapi yang Candi Sewu berjarak sekitar 800 m dari lokasi utama jadi mungkin yang tidak terbiasa jalan bisa ngos-ngosan. Kalau nggak yakin bisa sampai Candi Sewu jalan kaki, ambil aja kereta keliling.

Di area Prambanan juga ada Museum. Disini bisa nonton sejarah Prambanan, lalu ada juga relief-relief serta foto-foto sehubungan dengan sejarah Prambanan. Yang paling seger tentu saja duduk di tengah-tengah Pendopo. Kena semilir angin, jadi pengen tidur :P

Oleh: Laminar | Januari 6, 2009

Kepulauan Karimunjawa

Kepulauan Karimunjawa

Lokasi: Kepulauan Karimunjawa, kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar Kepulauan Karimunjawa, tetapi yang pernah kesana hampir dapat dipastikan merasa puas berada di kepulauan tersebut, apalagi para petualang.

Karimunjawa adalah gugusan 27 pulau besar dan kecil, surga bagi para penyelam dan yang ingin melakukan snorkeling. Kebanyakan pantainya adalah pasir putih seperti di Bali dengan ombak yang jinak sehingga cocok bagi yang membawa anak-anak. Pantainya juga banyak yang tidak berkarang sehingga cocok untuk berenang. Tempat ini juga surga bagi para pemancing. Dari memancing ikan sampai memancing cumi-cumi (sotong) dapat dilakukan hampir di berbagai lokasi dan pulau.

Saya bulan lalu kesana dua hari satu malam (kurang banget, beneran). Naik Kapal Motor Cepat (KMC) Kartini I dari Dermaga Airut, Pelabuhan Tandjoeng Emas, Semarang pada hari Sabtu jam 9am, kami diombang-ambingkan ombak tinggi laut utara selama 4 jam sebelum berlabuh di dermaga Karimunjawa.

Kami langsung dibawa ke homestay Hamfah yang dekat dengan pantai untuk makan siang lalu dibawa ke pantai tempat mancing cumi-cumi. Disana kita menyaksikan para penduduk lokal mancing sotong besar-besar.

Pohon roboh segan mati tak mau

Pohon roboh segan mati tak mau

Di sebelahnya ada pohon kelapa tertidur (roboh segan, mati tak mau) yang akhirnya jadi bulan-bulanan panjat-panjatan seru kita sembari bermain dengan yuyu yang langsung ngumpet di rumah masing-masing.

Setelahnya kita bertolak ke Pulau Kemojan, utara Pulau Karimun besar dengan mobil untuk menyaksikan hutan bakau dan perumahan suku Bugis (sekaligus berhenti sebentar di salah satu warung suku Bugis mencoba lemper ketan merah mereka – lupa deh namanya apa). Sepanjang perjalanan, kita disuguhi cerita-cerita seram dari Pak Sopir yang bikin perjalanan makin seru (?) :D

Sorenya kita diboyong ke Nirvana Resort (the best resort on the island) di Karimun besar untuk menonton sunset. Tapi ternyata dari Nirvana, sunsetnya ketutupan hutan palemnya mereka. Sunset paling bagus katanya ya dari pelabuhan.

Pagi-pagi buta di hari kedua, pukul 4.30am kita sudah langsung berjalan kembali ke Nirvana untuk menyaksikan sunrise, karena kata Pak Sopir yang orang lokal, paling bagus lihatnya ya dari situ. Sembari menunggu sunrise, kita bermain di pantai pasir putih di Nirvana bagai milik pribadi. Sayang banget, ternyata sunrisenya nggak sukses juga karena awannya tebel njlimet :(. Untungnya bermain di pantai yang bersih, asri, dan lembut menghapus rasa kecewa kita.

Kita langsung digiring buru-buru ke pasar tiban tradisional deket homestay. Disitu kita melihat aktifitas para penduduk lokal dan sempat membeli panganan lokal seperti Brayo, dll dengan harga luar biasa murah :) Puas potrat-potret dan membeli panganan lokal, kita lanjut ke pelabuhan untuk ngapal ke pulau-pulau di sekitar Karimun besar untuk snorkeling. Kalau ga salah kita snorkelingnya di Pulau Cemara dan Pulau Geleang sebelum ke Pulau Menjangan Kecil untuk berenang bareng hiu.

Snorkelingnya bagus banget. Lautnya bersih, terumbu karangnya kaya flora dan fauna. Luar biasa deh pokoknya. Cuman aja waktu itu gw menggigil kedinginan sampe jari-jari tangan gw mulai mati rasa gara-gara abis ujan jadi air dan anginnya brrrr…. usul gw kalo mau snorkeling emang enakan pake kaos dan celana, jangan cuma baju renang aja. Dingin abiz! Terus ati-ati nabrak karang karena kasar dan beberapa memang cukup dangkal jadi bisa nyeset badan ato kaki loe. Dari rombongan ber-6, 5 dapet oleh-oleh sesetan karang dari Karimunjawa *yuuk*.

Berenang bareng hiu itu juga seru. Secara hiu gitu ya. Mana mas nakhodanya sempet nakut-nakutin lagi, “Aman kok hiunya, selama ga ada darah.” Yeee, kita kan badan pada abis kena seset sana-sini, darah ngocor sana-sini abis snorkeling, dibilangin gitu rada-rada jiper juga sih. Pas udah ndeprok di pinggir kolam hiunya, ktia harus bertanya berkali-kali ke mas-mas dan mbak-mbak di sekitar situ: “Aman kan ya? Aman kan ya? Beneran nih?” Mereka sampe paduan suara: “Iyaaaa, amaaaaan.”

Mengejar Mas Hiu-Hiu

Mengejar Mas Hiu-Hiu

Pas baru mau masukin kaki, lahhh ada satu hiu yang ndeketin kita, langsung deh parno dan angkat kaki! Hiak hiak hiak! Ritual tanya-jawab “aman ga aman” kembali berkumandang. Setelah hiu-hiu terlihat agak jauh, kita pun nekat nyemplung. Pas berusaha menggapai para hiu, ternyata mereka kabur. Ngeliat gelagat gitu, jadi pede deh. Kita jadi ngejer-ngejer hiunya kesana-sini dan para hiu gelagapan melarikan diri kesana-sini juga! Hahahaha, ternyata hiunya takut sama orang! :D

Udah deh, abis puas snorkeling dan berenang bareng hiu, kita kembali dan bersiap pulang ke Semarang dengan kapal yang sama yang berangkat jam 2 siang.

Puas luar biasa.

Dokumentasi foto: Kristiargo

Oleh: Laminar | Januari 6, 2009

Amanjiwo, Magelang

http://images.octopustravel.com/HH/Images/IA/YOGY/YOGYAMA3.jpg

Lokasi: Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Telp: (0293) 788 333

Amanjiwo adalah tempat penginap super eksklusif nan terpencil tapi indah luar biasa. Menikmati teh atau kopi di sore hari disini, Anda dapat memandang borobudur langsung dari kejauhan.

Hanya saja, karena tempat ini eksklusif luar biasa, berpakaianlah sepantasnya agar tidak diusir keluar he he he he.

Menginap disini yang pasti butuh kocek besar. Harga untuk orang lokal dimulai dari US$350. Tapi memang tempatnya perlu diacungi jempol. Dengan jumlah kamar hanya ada 35, resort yang letaknya paling bawah langsung berciuman dengan hamparan sawah yang terawat asri yang mengitari borobudur yang terlihat dari jauh. Pada event-event tertentu, lampu-lampu di borobudur akan dinyalakan dan pada saat itulah, keindahan borobudur terlihat paling apik dari Amanjiwo. Cocok nian bagi pasangan yang mencari pelarian romantis ^_^.

Letaknya memang terpencil tapi tidak sulit menemukannya. Dari Borobudur pergi saja menuju arah Hotel Manohara dan ikuti terus jalannya (hanya ada satu jalan beraspal itu). Jalannya memang akan semakin mengecil dan semakin “meragukan,” tetapi jangan cemas. Tancap terus sampai di sebelah kiri terlihat portal untuk masuk ke suatu kawasan. Itulah Amanjiwo. Kurang lebih 15-20 menit dari Borobudur.

Jika menginap disini, Anda bisa meminjam sepeda mereka untuk berkeliling di sekitaran Amanjiwo yang tentu saja asri, nyaman, segar luar biasa.

Oleh: Laminar | Januari 6, 2009

Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

http://img37.picoodle.com/img/img37/3/12/6/f_3082405654fm_85e958d.jpg

Lokasi: Jl. Simongan No. 129, Kelurahan Bongsari, Semarang Selatan. Telp: (024) 760 5277

Klenteng Sam Poo Kong atau sering juga disebut sebagai Gedong Batu oleh masyarakat lokal adalah peninggalan super jaman dahulu. Sam Poo Kong adalah tempat pemujaan pada masa Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok diutus ke pulau Jawa dan mendarat di pantai Semarang pada tahun 1401.

Bagi para fotografi mania, klenteng ini pasti memiliki aura khusus yang membuat para fotografer lengket bagai nyamuk kejerat di sarang laba-laba. Megah dan indah.

Tidak hanya klenteng megah dan indah yang bisa dilihat disini, tetapi juga terdapat patung Laksamana Cheng Ho dan beberapa patung lainnya. Anda juga dapat meminjam kostum baju Tiongkok (cheong sam) untuk kemudian difoto di dalam area klenteng hanya dengan Rp 50,000.

Beberapa hal yang perlu diingat:

1. Jika Anda ingin berkunjung melihat ke dalam klenteng-klenteng (termasuk yang utama), lebih baik konfirmasi dulu “jam besuknya” jam berapa karena diluar jam besuk ini, Anda hanya bisa melihat klenteng dari luar batas pagar klenteng masing-masing karena klenteng kembali dipergunakan untuk sembahyang. Jam besuk ini juga ajaib. Menurut pendengaran saya disana tanggal 29 Des 2008, jam besuknya adalah jam 8-11am. Tapi ada juga yang bilang jam besuknya pukul 8, 11, 13, and 15 selama 15 menit tok. Nah, mendingan telpon dulu ke (024) 760 5277 untuk konfirmasi.

2. Semarang luar biasa panas, dan Sam Poo Kong tidak terkecuali apalagi karena jarang ada tempat teduhan disana. Bawalah payung dan/atau topi jika tidak mau terbakar matahari.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.